
Keterangan Gambar : Foto Ilustrasi Derita Anak Gaza. (Sumber Foto dihasilkan oleh AI/Google Gemini 2026/PP)
Oleh: Bella Lutfiyya
Karyawan Swasta/Aktivis Muslimah
SEJAK - Oktober 2023, UNICEF melaporkan bahwa pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 warga terluka. Sekitar 846 orang yang terdiri dari perempuan dan anak-anak tewas dalam rentetan serangan Israel sejak gencatan itu, menurut kementerian kesehatan setempat. Sudah sejauh apa penderitaan rakyat Gaza di sana?
Satu hal yang tak luput dari efek penjajahan ini ialah kondisi psikologis dan mental rakyat Gaza, terutama anak-anak. Di usia mereka yang seharusnya menikmati masa kanak-kanak dengan ceria, bermain dengan teman, belajar di sekolah, namun yang tampak di depan mata setiap harinya ialah darah, luka, ancaman kematian.
Katrin Glatz Brubakk, seorang Psikoterapis Anak dari Norwegia menyampaikan pada BBC bahwa setiap anak Gaza mengalami trauma dengan lebih dari satu juta anak telah menderita trauma parah. Salah satu dampak trauma tersebut bahkan menyebabkan anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara.
Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga mereka harus kehilangan kemampuan bicara adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan Gaza. Skenario ini tidak hanya menghancurkan fisik rakyat Gaza, tetapi juga menghancurkan mental mereka. Di satu sisi, dunia tidak mampu menghentikan kejahatan entitas zionis ini, kecuali dengan sedikit bantuan kemanusiaan.
Sementara itu, penguasa muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina. Kerjasama dengan negara pendukung zionis, bergabung dengan organisasi yang dibentuk oleh mereka, padam sudah persatuan umat Islam saat ini. Umat Islam sudah kehilangan perisai yang melindungi, yaitu Khilafah Islam.
Sebagian besar umat muslim hanya menganggap Islam sebagai agama yang mengatur permasalahan ibadah. Padahal, Islam tidak sesederhana itu. Pengaturan ibadah adalah bagian dari hubungan manusia dengan Allah sebagai pencipta, sedangkan ada lingkup yang mengatur hubungan antar manusia, di dalamnya pengaturan kehidupan sangat lengkap dibahas. Misalnya, aturan jual-beli (muamalah), pendidikan, ekonomi Islam, tata negara, hingga hubungan internasional.
Negara yang menerapkan Islam melarang melakukan adanya hubungan kerjasama dengan kaum kafir harbi fi’lan, yaitu entitas yang secara terang-terangan memusuhi Islam. Dalam kondisi saat ini, Amerika Serikat dan Israel. Oleh karenanya, tindakan kerjasama dengan dua pihak tersebut sangat bertentangan dengan Islam. Sayangnya, hilangnya ruh atau kesadaran akan hubungan dengan Allah dalam jiwa umat Islam saat ini membuat tindakan tersebut dilanggengkan.
Garis semu hasil ide nasionalisme berupa batas-batas negara juga menjadi sebab enggannya negara-negara Islam untuk membantu memperjuangkan Palestina. Akibatnya, Palestina tidak lain hanya dianggap sebagai “negara lain”, bukan saudara sesama muslim. Hal ini menjadi contoh keberhasilan musuh Islam untuk memecah umat Islam.
Derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri, tidak cukup dengan terapi, tapi negeri mereka harus dibebaskan dari penjajahan Israel. Mengobati trauma harus dilakukan dengan menuntaskan akar permasalahannya. Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah. Untuk itu, dibutuhkan institusi Khilafah yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina.
Kesadaran perjuangan untuk menegakkan Khilafah sangat penting bagi pembebasan Palestina dan persatuan kaum muslimin seluruh dunia. Hal yang dapat dilakukan saat ini ialah menambah pemahaman dan ilmu Islam, mencari lingkungan yang dapat menguatkan keimanan, dan meluruskan pemahaman masyarakat mengenai khilafah dengan dakwah. Perubahan sistem yang kufur, tidak hanya melibatkan ketakwaan individu saja, namun perlu adanya masyarakat yang bersatu, dan keterlibatan negara sebagai pilarnya. (*)










LEAVE A REPLY