Optimalisasi e-Learning Terintegrasi AI: Solusi Kurikulum Digital bagi Pendidik Gen Alpha di SMPN 35 Kota Bekasi
Oleh: Khasanah, Nurul Fajri, dan Syarifah
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian pesat dan mendisrupsi berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Namun, keberadaan teknologi canggih ini kerap menyisakan celah pedagogis di lapangan. Guna merespons tantangan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) merancang program pendampingan Smart-Early Steps untuk memperkuat kompetensi pedagogis digital para guru di SMPN 35 Kota Bekasi.
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Kemendikti Saintek Berdampak 2026 dan berlangsung selama delapan bulan ini dipimpin oleh akademisi UIA, yaitu Dr.Khasanah, S.Pd, M.Pd, beranggotakan Dr.Syarifah,M.Pd dan Nurul Fajri, M.Pd. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penguasaan alat digital secara teknis, tetapi juga membekali pendidik agar mampu mengintegrasikan AI secara kontekstual, etis, dan berkesinambungan dalam Proses Pembelajaran di ruang kelas.
Menjawab Tantangan Realistis di Sekolah Urban
Sebagai sekolah menengah di kawasan penyangga ibu kota, SMPN 35 Kota Bekasi telah didukung oleh sarana pendukung seperti laboratorium komputer dan koneksi internet yang memadai. Namun, analisis kebutuhan awal menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur belum sejalan dengan tingkat kesiapan guru dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan secara optimal.
Di sisi lain, para siswa yang dihadapi merupakan Generasi Alpha (lahir setelah tahun 2010) yang memiliki tingkat fasih digital (digital fluency) tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Kendati demikian, kemampuan digital siswa tersebut belum terarah untuk kepentingan akademik.
"Hambatan utama di lapangan jarang sekali berpusat pada ketersediaan perangkat keras, melainkan pada terbatasnya kompetensi pedagogis digital guru. Integrasi AI yang sukses sangat bergantung pada kesiapan guru dalam merancang kurikulum personal, memfasilitasi interaksi, serta mengevaluasi pembelajaran berbasis AI secara bijak," ujar Syarifah, perwakilan tim akademisi UIA.
Pendekatan Kolaboratif dan Ekosistem AI Terpadu
Melalui pendekatan Participatory Technological Development (PTD), program ini tidak menggunakan metode pelatihan satu arah yang cenderung pasif. Sebaliknya, para guru dilibatkan secara aktif mulai dari tahap pemetaan kebutuhan, perancangan modul, simulasi mandiri, hingga evaluasi berbasis refleksi.
Untuk menghindari fragmentasi keterampilan teknis, tim pengabdian mendesain alur kerja terpadu (coherent workflow) yang menggabungkan empat aplikasi AI utama:
- Teachy.ai: Digunakan untuk menyusun modul ajar dan mengorganisasi alur aktivitas pembelajaran.
- ChatGPT Plus: Dimanfaatkan untuk mengembangkan konten materi, diferensiasi tugas sesuai tingkat kemampuan siswa, serta perancangan draf asesmen.
- Canva Pro AI: Mempermudah perancangan media pembelajaran visual yang adaptif dan interaktif.
- Wordwall Pro: Mengubah evaluasi konvensional menjadi asesmen formatif berbasis gim (gamification) yang memberikan umpan balik langsung kepada siswa.
Pemanfaatan ke-4 aplikasi di atas di Koordinasikan dengan pihak manajemen Sekolah SMPN 35 Kota Bekasi terlebih dahulu tentunya, karena kesuksesan pelaksanaan Program PKM sangat bergantung juga pada dukungan Mitra PKM yaitu SMPN 35 Kota Bekasi. Kemudian Tim PKM meminta persetujuan kepada 30 Guru sebagai peserta pelatihan akan keikutsertaannya dalam kegiatan Pelatihan selama 5 hari. Antusiasme terlihat begitu jelas pada wajah-wajah guru sebagai pendidik Gen Alfa saat pelatihan di lakukan. Apalagi Ketika hibah alat dan Teknologi diberikan berbentuk Aplikasi Teachy.ai, Chatgpt, Canva Pro.Ai, Wordwall Pro. Mereka para Guru menjadi lebih Melek IT dan memudahkan mereka tentunya dalam menyiapkan dan pelakasaan dan asesmen pembelajaran.
|
|
|
|
Gambar: Tiem PKM dan Nara Sumber Mengisi kegiatan Pelatihan |
|
Pembahasan Mendalam: Dampak Pedagogis dan Efisiensi Kerja
Implementasi ekosistem AI terpadu yaitu Aplikasi Teachy.ai, Chatgpt, Canva Pro.Ai, Wordwall Pro ini terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi dan kualitas pembelajaran. Salah satu capaian yang paling menonjol adalah terciptanya efisiensi waktu penyiapan bahan ajar. Dari yang semula membutuhkan waktu rata-rata 14 jam per unit pembelajaran, para guru kini mampu menyelesaikannya dalam waktu sekitar 45 menit. Efisiensi ini berdampak langsung pada penurunan beban tugas administratif rutin hingga 65 persen.
Berkurangnya beban administratif memungkinkan guru mengalihkan fokus dan energi mereka untuk memberikan perhatian individual kepada siswa, mendampingi peserta didik yang membutuhkan intervensi khusus, serta meningkatkan kualitas interaksi manusiawi di dalam kelas.
Berdasarkan analisis evaluasi yang mengacu pada Competency Framework for Teachers dari UNESCO, kompetensi pedagogis digital guru mengalami peningkatan drastis. Rerata skor kompetensi meningkat dari kategori sedang (53,25%) sebelum program, menjadi kategori tinggi (71%) setelah intervensi.
Secara terperinci, peningkatan kompetensi ini mencakup enam dimensi utama:
|
Dimensi Kompetensi |
Deskripsi Peningkatan
|
|
Literasi Digital Pedagogis |
Peningkatan pemahaman guru terhadap karakteristik pembelajar digital Generasi Alpha. |
|
Perencanaan Pembelajaran Berbasis AI |
Keterampilan merekayasa perintah (prompt engineering) untuk menghasilkan draf RPP yang terstruktur. |
|
Personalisasi Pembelajaran |
Kemampuan menyusun materi berdiferensiasi yang disesuaikan dengan beragam gaya belajar siswa. |
|
Pengembangan Media Digital |
Kemahiran memproduksi visual pembelajaran secara cepat dan menarik. |
|
Implementasi dan Asesmen Digital |
Penguasaan penyusunan kuis interaktif berbasis gim. |
|
Etika AI & Pengembangan Profesional |
Kesadaran akan perlindungan data pribadi, validasi akurasi informasi AI, serta integritas akademik. |
Hasil wawancara dengan Bapak Fajri selaku wakil kurikulum SMPN 35 Kota Bekasi bahwa ‘Penilaian kinerja praktis menunjukkan bahwa 93,3 persen peserta (28 dari 30 guru) telah mampu secara mandiri menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi berbasis AI yang memenuhi standar kualitas pedagogis’.
Khasanah yang juga dosen di Prodi S2 Teknologi Pendidikan mengungkapkan bahwa hasil monitoring Tim PKM pada tanggal 21 Juli 2026 menunjukkan bahwa Para Guru telah mampu menerapkan Teknologi Digital berbasis Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pembelajaran. Pengamatan di lakukan pada 5 Guru yang telah menyiapkan modul dan materi pembelajaran sesuai dengan yang telah di latih oleh Tiem PKM.
|
|
|
|
Gambar: Monitoring Pemanfaatan AI oleh Tim PKM ke Kelas-Kelas |
|
Gambar: Foto Bersama Tim PKM dengan Nara Sumber, Kepala Sekolah dan Guru SMPN 35
Implikasi Jangka Panjang dan Pembentukan Komunitas Belajar
|
|
|
|
Gambar: Louncing Komunitas Guru Pecinta Desain Grafis dan Penandatangan Kontrak Kerjasama |
|
Keberhasilan program Smart-Early Steps tidak berhenti pada tahap pelatihan. Guna menjamin keberlanjutan integrasi AI di lingkungan sekolah, SMPN 35 Kota Bekasi meresmikan pembentukan Komunitas Belajar (Professional Learning Community).
Dalam wadah ini, 30 guru yang telah mendapatkan pendampingan difungsikan sebagai mentor sebaya (peer mentors). Mereka bertugas membagikan pengalaman, memfasilitasi diskusi rutin, serta mendampingi rekan-rekan guru lainnya yang belum mengikuti program awal.
Selain itu, pihak sekolah secara melembaga telah mengintegrasikan praktik pembelajaran berbasis AI ke dalam panduan operasional internal sekolah. Langkah institusional ini memastikan bahwa pemanfaatan AI tidak lagi menjadi inisiatif individu yang bersifat sementara, melainkan bagian dari budaya mutu dan kebijakan transformasi digital sekolah secara berkelanjutan.***










LEAVE A REPLY