
Keterangan Gambar : Ustaz Bachtiar Nasir (UBN)- foto aboe
JAKARTA,pjminews.com--Fenomena yang disebut sebagai “Intifada Digital” dinilai telah mengguncang fondasi diplomasi Barat dalam merespons isu Al-Aqsa. Gelombang opini publik global yang terbentuk di ruang digital disebut melampaui batas geografis dan jalur diplomasi konvensional.
Dalam wawancara eksklusif bersama Global News Network (GNN), pengamat Timur Tengah Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) menyatakan bahwa yang terjadi saat ini bukan sekadar eskalasi politik, melainkan pergeseran besar dalam kendali narasi global.
“Yang kita saksikan adalah runtuhnya hegemoni narasi. Selama puluhan tahun, Barat mencoba meredam isu Al-Aqsa melalui normalisasi dan stabilitas semu. Namun mereka mengabaikan bahwa Al-Aqsa adalah titik saraf umat Islam dunia,” ujar UBN, Selasa (31/3/2026).
Ia menambahkan, penutupan akses terhadap situs suci tersebut memicu “resonansi global” yang diperkuat oleh teknologi digital, sehingga menciptakan mobilisasi kesadaran lintas negara yang sulit dibendung.
Data yang dihimpun GNN menunjukkan lonjakan signifikan aktivitas di media sosial seperti X dan TikTok pasca-penutupan akses Al Aqsa, mencerminkan percepatan penyebaran informasi di kalangan publik global.
Fenomena ini dinilai menggeser peran diplomasi formal yang selama ini mengandalkan jalur institusional seperti nota diplomatik dan forum internasional.
Menurut UBN, diplomasi konvensional kini menghadapi tantangan serius karena tidak mampu mengimbangi kecepatan dan dampak visual dari informasi digital. “Ketika masyarakat melihat realitas secara langsung melalui layar mereka, narasi resmi menjadi kurang relevan,” ujar Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) itu.
Lebih lanjut, ia menilai tekanan dari opini publik digital juga berdampak pada dinamika politik di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah negara disebut menghadapi dilema antara mempertahankan komitmen politik dan merespons tekanan domestik yang terus menguat.
“Ini adalah bentuk baru kekuatan politik. Ia bisa mencabut legitimasi moral dari proses normalisasi yang tidak berpihak pada Al-Aqsa,” ujar UBN.
UBN pun mengimbau masyarakat global untuk terus berperan aktif dalam ruang digital. Ia menilai setiap konten yang disebarkan dapat menjadi bagian dari pertarungan opini yang lebih luas.
“Setiap unggahan adalah bagian dari perjuangan narasi. Kita berada di era di mana opini publik global dapat terbentuk dalam hitungan detik,” kata dia.
Fenomena “Intifada Digital” kini menjadi sorotan sebagai faktor baru dalam peta geopolitik global, sekaligus menandai perubahan signifikan dalam cara isu internasional dimobilisasi dan dipersepsikan publik.***(pjmi/Il/sp)
#EnteringAlaqsa



444.png)





LEAVE A REPLY