Beberapa hari lagi, kita akan memasuki sebuah momentum yang sangat sakral dalam sejarah peradaban Islam. Sebuah momentum di mana takbir, tahmid, dan tahlil akan memenuhi ruang udara kita. Hari itu adalah Idul Adha, hari raya Kurban, hari raya di mana ketaatan kita diuji melampaui logika duniawi.
Sayangnya, seringkali kita terjebak dalam rutinitas. Kurban dianggap sekadar “iuran daging” tahunan. Kurban dianggap sekadar tradisi bagi yang mampu. Padahal, jika kita menyelami lebih dalam, kurban adalah bahasa cinta antara hamba dengan Penciptanya. Khutbah kali ini akan mengajak kita semua untuk tidak hanya “berkurban”, tapi “memberikan kurban terbaik” yang kita miliki.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Kau?ar (1-3)yang artinya
“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak [1] Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! [2] Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah) [3].”
Dalam tafsir Asy-Syarawi surah Al-Kau?ar dijelaskan sebagai bentuk hubungan yang berlawanan terhadap perilaku buruk yang dipaparkan dalam surah Al-Maun Jika dalam surah sebelumnya manusia digambarkan kikir, gemar pamer (riya), dan enggan menolong, maka surah Al-Kausar datang untuk menghadapkan sifat kikir dengan pemberian dan kemurahan. Perintah salat dalam surah ini ditekankan untuk dilakukan secara ikhlas karena Allah, sebagai lawan dari sifat riya, sementara perintah berkurban hadir sebagai lawan dari sikap menahan bantuan kepada sesama.
Terkait dengan konsep kurban terbaik, Syekh Asy-Syarawi menjelaskan bahwa kata wan?ar merujuk pada pengorbanan yang dilakukan dengan memberikan “asal” atau esensi dari sesuatu, bukan sekadar manfaatnya saja. Pengorbanan hewan dianggap sebagai bentuk kedermawanan yang paling maksimal karena hewan menempati urutan keberadaan tepat di bawah manusia; setelah benda mati dan tumbuhan. Melepaskan kepemilikan atas sesuatu yang dicintai atau memiliki nilai tinggi bagi jiwa menunjukkan derajat kedermawanan yang tinggi, karena dalam kurban materi, seseorang benar-benar melepaskan apa yang ia miliki agar berpindah ke tangan orang lain.
Kurban yang paling utama bersumber dari keyakinan kuat bahwa seorang hamba senantiasa terhubung dengan Allah sebagai sang Pemberi yang tidak terbatas. Kurban dimaknai sebagai aliran kedermawanan yang terus-menerus selaras dengan banyaknya nikmat yang diterima. Dengan terus memberi dan tidak takut akan kekurangan, seorang mukmin meneladani rasa syukur Rasulullah r yang selalu ingin menjadi hamba yang bersyukur atas segala karunia-Nya. (Syekh Syarawi, Tafsir Juz Amma, 615-624).
Sebagai bentuk syukur atas nikmat yang melimpah itu, Allah memerintahkan dua hal: Salat dan Berkurban (wan?ar). Mengapa kurban disandingkan dengan salat? Karena salat adalah penyerahan jiwa, sedangkan kurban adalah penyerahan harta. Seseorang belum dikatakan sempurna syukurnya jika ia hanya mampu ruku' dan sujud secara fisik, namun hatinya masih memegang erat harta dunianya saat diperintahkan untuk berbagi. Kurban adalah “pembuktian” bahwa cinta kita kepada Sang Pemberi Nikmat jauh lebih besar daripada cinta kita kepada nikmat itu sendiri.
Dalam hal ibadah, para ulama salafus salih mengajarkan sebuah standar yang sangat tinggi. Salah satunya adalah Jabir bin Zaid, seorang ulama besar dari generasi Tabiin. Beliau memiliki prinsip yang luar biasa dalam berinteraksi dengan Allah. Dalam kitab ?ilyatul Auliya’, diriwayatkan,
“Jabir bin Zaid tidak pernah tawar-menawar dalam tiga hal: ongkos perjalanan ke Mekah (Haji/Umrah), membeli budak untuk dimerdekakan, dan hewan kurban. Ia berkata, ‘Jabir bin Zaid tidak pernah tawar-menawar dalam segala sesuatu yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.’” ( ?ilyatul Auliya wa Tabaqat al Asfiya, 3/87).
Mari kita renungkan. Saat kita di pasar, kita seringkali menawar harga hewan kurban serendah mungkin agar “hemat”. Padahal, uang yang kita hemat itu akan habis untuk kebutuhan duniawi lainnya yang tidak kekal. Jabir bin Zaid merasa malu kepada Allah jika ia mencoba “menego” harga persembahannya kepada Tuhan Semesta Alam. Beliau ingin memberikan harga penuh sebagai bentuk penghormatan total kepada Allah.
Ketulusan dalam memilih kualitas hewan juga ditekankan oleh para pembesar Tabiin lainnya. Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya, Urwah bin Zubair, sebuah pesan yang menyentuh hati,.
“Janganlah salah seorang dari kalian menghadiahkan kepada Allah dari hewan kurban sesuatu yang ia malu untuk menghadiahkan kepada orang yang mulia di antara kalian. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang paling mulia di antara para pemilik kemuliaan dan paling berhak untuk dipilihkan yang terbaik bagi-Nya.” (Imam Malik, Muwatta Malik , Riwayat Abi Musah Az Zuhri, 1/474).
Logikanya sangat tajam: Jika kita ingin memberi hadiah kepada gubernur, presiden, atau mertua yang kita hormati, kita pasti memilih parsel yang paling mahal, buah yang paling segar, dan kemasan yang paling indah.
Kita malu memberikan yang cacat atau murah kepada manusia. Lantas, bagaimana mungkin kita memberikan hewan kurban yang kurus, yang paling murah di pasar, hanya karena ingin mencari harga terendah untuk Allah? Bukankah Allah lebih berhak mendapatkan yang terbaik?
Contoh lain, Abdullah bin Umar Radiyatulllahu anhuma adalah sosok yang sangat tekstual dan mendalam dalam mengamalkan ayat,
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS Ali imran ayat 92).
Dikisahkan dalam riwayat, “Ibnu Umar tidak pernah menyukai sesuatu dari hartanya kecuali ia mendahulukannya untuk Allah. Hingga suatu hari ia sedang menunggang seekor unta, lalu ia merasa kagum kepadanya. Maka ia segera turun darinya saat itu juga, mengalungkan tanda hewan kurban, dan menjadikannya sebagai hewan kurban untuk Allah.” (Juzun fihial-Kalam ala Hadis Yattabiu al- Mayyit Salas 2/428).
Inilah level cinta yang sesungguhnya. Saat kita merasa sayang pada harta kita, di situlah ujian kurban dimulai. Kurban bukan membuang harta, tapi mentransfer harta dari rekening dunia yang fana ke rekening akhirat yang abadi.
Seringkali bisikan setan datang dengan membawa ketakutan akan kemiskinan. “Nanti kalau kurban uang tabungan habis, nanti kalau kurban tidak bisa beli ini-itu.” Menjadi orang yang mampu secara finansial namun tidak mau berkurban adalah sebuah aib kepribadian yang besar di hadapan Allah. Sebaliknya, Allah tidak membebani jiwa di luar kemampuannya. Namun, bagi yang mampu, kurban adalah harga diri seorang mukmin.
Jangan pernah takut miskin karena memberi. Ada sebuah hikayat indah tentang sepasang suami istri yang saleh namun sangat fakir. Mereka hanya memiliki satu ekor domba untuk menyambung hidup. Ketika Idul Adha tiba, mereka ingin berkurban namun merasa tidak punya apa-apa lagi.
Suatu hari, mereka kedatangan tamu. Sang istri berkata kepada suaminya, “Sembelihlah domba satu-satunya ini untuk menjamu tamu kita.” Suaminya menyembelihnya dengan penuh keikhlasan di luar rumah agar anak-anaknya tidak menangis melihat domba kesayangan mereka dipotong.
Tak lama kemudian, sang istri melihat seekor domba turun dari dinding rumah. Ia menyangka domba itu adalah domba mereka yang lepas. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat suaminya masih memegang domba yang sudah disembelih tadi. Sang istri berseru dengan penuh iman***










LEAVE A REPLY