
Keterangan Gambar : Siswa SMAN 112 Jakarta melakukan latihan penyelamatan diri dan evakuasi mandiri gempabumi, Rabu (21/10), (sumber Foto: Tim Dokumentasi SMAN 112)
JAKARTA, - PJMINews.com— Pagi ini, kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 112 Jakarta berlangsung seperti biasa. Guru menyampaikan materi di depan kelas, sementara peserta didik menyimak dan mencatat pelajaran. Tak ada yang berbeda dari rutinitas sekolah pada umumnya. Hingga sebuah peringatan gempabumi mengubah suasana dan menjadi tanda bahwa situasi darurat harus segera dihadapi.
Dalam hitungan detik, ketenangan kelas berganti menjadi situasi yang menuntut respons cepat dan tepat. Meja dan kursi bergoyang. Guncangan terasa semakin kuat. Suara peringatan dan instruksi keselamatan mengingatkan setiap orang untuk segera bertindak. Peserta didik merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, serta melindungi kepala dan leher. Guru mengarahkan mereka agar tetap tenang dan tidak berhamburan keluar kelas.
Setelah tahap perlindungan diri selesai, warga sekolah bersiap mengikuti instruksi evakuasi melalui jalur yang telah ditentukan menuju titik kumpul.Tidak ada yang berlari, saling mendorong, atau kembali mengambil tas dan barang pribadi. Di tengah situasi yang menegangkan, setiap detik berarti dan setiap tindakan menentukan keselamatan.
Guncangan itu bukan kejadian gempa bumi yang sesungguhnya. Seluruh rangkaian tersebut merupakan Skenario dari Simulasi Gempabumi Serentak di Sekolah dan Gedung Milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dilaksanakan pada Rabu (21/10), dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2026 sekaligus mendukung uji coba sistem peringatan dini gempabumi Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Skenario latihan tersebut menggambarkan gempabumi besar yang bersumber dari zona megathrust Selat Sunda, dengan magnitudo 9,1 pada kedalaman 10 kilometer. Dalam skenario ini, guncangan dengan intensitas VII MMI (Modified Mercalli Intensity) digambarkan dirasakan di Jakarta dan sekitarnya.
Kegiatan di SMAN 112 Jakarta melibatkan lebih dari 800 peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. Simulasi dirancang untuk meningkatkan kemampuan warga sekolah dalam merespons peringatan dini gempabumi, melakukan tindakan perlindungan diri, serta melaksanakan evakuasi secara tertib, aman, dan terkoordinasi. Pelaksanaan simulasi dimulai pukul 10.00 WIB melalui skenario penerimaan peringatan InaEEWS. Setelah menerima sinyal latihan, warga sekolah mempraktikkan teknik Drop, Cover, and Hold On, yaitu merendahkan tubuh, berlindung di bawah meja yang kokoh jika memungkinkan, melindungi kepala dan leher, serta berpegangan hingga instruksi berikutnya diberikan.
Setelah tahap perlindungan diri, tim evakuasi memberikan instruksi melalui sirene dan megafon untuk memulai evakuasi. Warga sekolah bergerak melalui jalur yang telah ditetapkan menuju titik kumpul. Guru, petugas lantai, anggota Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), dan Tim Siaga Bencana sekolah menjalankan peran masing-masing untuk mendukung kelancaran evakuasi dan pendataan peserta.
Simulasi ini juga menjadi sarana untuk mengevaluasi kesiapan jalur evakuasi, kejelasan denah, pembagian tugas, serta mekanisme pelaporan kondisi warga sekolah. Seluruh tahapan dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan dan ketertiban.
Kepala SMA Negeri 112 Jakarta, Sukarman, M.Pd., menegaskan komitmen sekolah untuk terus memperkuat kapasitas dan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana.
“SMAN 112 Jakarta terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan agar menjadi satuan pendidikan yang berkapasitas tinggi dan tangguh dalam menghadapi bencana. Melalui kegiatan simulasi ini, kami berharap seluruh warga sekolah semakin memahami prosedur keselamatan, mampu melakukan tindakan perlindungan diri dengan benar, serta melaksanakan evakuasi secara tertib dan terkoordinasi. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya yang dibangun dan dipraktikkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Penguatan kesiapsiagaan sekolah tidak hanya dilakukan melalui penyediaan sarana keselamatan, tetapi juga melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan koordinasi seluruh unsur satuan pendidikan. Latihan berkala diperlukan untuk memastikan prosedur yang telah disusun dapat diterapkan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
BRIN Apresiasi Kesiapsiagaan Warga SMAN 112 Jakarta
Kegiatan ini turut dihadiri tim observer dari mitra peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS). Dr. Andi Eka Sakya, yang mewakili BRIN, menyampaikan apresiasi kepada pihak SMAN 112 Jakarta atas pelaksanaan simulasi yang berlangsung dengan semangat dan partisipasi aktif warga sekolah. Ia juga mengapresiasi penerapan teknik penyelamatan diri yang dinilai telah dilakukan dengan tepat.
InaEEWS merupakan sistem peringatan dini gempabumi yang dirancang untuk menyampaikan informasi berdasarkan deteksi gelombang awal gempa sebelum guncangan yang lebih kuat tiba di lokasi penerima, apabila kondisi memungkinkan. Sistem ini berbeda dengan prediksi gempa bumi karena tidak memberikan kepastian jauh-jauh hari mengenai waktu terjadinya gempa.
Waktu yang tersedia untuk merespons peringatan dapat sangat singkat, bergantung pada jarak terhadap sumber gempa, karakteristik gelombang, serta proses deteksi dan penyampaian informasi. Karena itu, warga sekolah tetap harus memahami prosedur perlindungan diri apabila guncangan sudah dirasakan, tanpa menunggu notifikasi aplikasi.
Ratih Rachmawati, S.Pd., M.Si., selaku guru penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa salah satu tujuan simulasi adalah menguji coba InaEEWS sekaligus melatih keterampilan warga satuan pendidikan dalam merespons peringatan dini gempabumi yang disampaikan BMKG melalui aplikasi tersebut.
“Melalui simulasi ini, sekolah dapat mengamati respons warga terhadap sinyal peringatan, mengidentifikasi kendala teknis, serta mengevaluasi kesesuaian prosedur yang diterapkan. Pemanfaatan teknologi perlu disertai kesiapan pengguna agar informasi peringatan dapat ditindaklanjuti dengan tindakan yang tepat,” jelas Ratih.
Persiapan Skenario dan Penguatan Kapasitas Sekolah
Dalam persiapannya, SMAN 112 Jakarta memperoleh asistensi dari Tasril Mulyadi, S.Pd., C.T., selaku fasilitator program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), dalam menyusun skenario kegiatan berdasarkan materi sosialisasi yang diberikan oleh BPBD Provinsi DKI Jakarta dan BMKG.
Penyusunan skenario mencakup penetapan tanda dimulainya latihan, prosedur perlindungan diri, instruksi dan jalur evakuasi, pembagian tugas petugas, pendataan peserta di titik kumpul, serta mekanisme pengakhiran dan evaluasi kegiatan. Persiapan ini diperlukan agar simulasi berlangsung terencana dan menjadi sarana pembelajaran bagi seluruh warga sekolah.
Kesiapan teknis juga mencakup pemeriksaan perangkat penerima notifikasi InaEEWS, megafon, peluit, alat komunikasi, kotak pertolongan pertama, daftar peserta, serta denah jalur evakuasi. Mekanisme alternatif disiapkan untuk mengantisipasi kendala teknis atau notifikasi yang tidak diterima secara serentak.
Aspek inklusivitas turut menjadi perhatian dalam perencanaan simulasi. Peserta didik penyandang disabilitas dan warga sekolah yang membutuhkan bantuan mobilitas memerlukan pendampingan serta prosedur evakuasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kesiapan teknis juga mencakup pemeriksaan perangkat penerima notifikasi InaEEWS, megafon, peluit, alat komunikasi, kotak pertolongan pertama, daftar peserta, serta denah jalur evakuasi. Mekanisme alternatif disiapkan untuk mengantisipasi kendala teknis atau notifikasi yang tidak diterima secara serentak.
Aspek inklusivitas turut menjadi perhatian dalam perencanaan simulasi. Peserta didik penyandang disabilitas dan warga sekolah yang membutuhkan bantuan mobilitas memerlukan pendampingan serta prosedur evakuasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Salah satu kegiatan yang sedang berjalan adalah Research Project for Development of End-to-End Earthquake Early Warning and Response System (E2E EEWRS), yang melibatkan lembaga penelitian dan pemangku kepentingan di Indonesia serta mitra penelitian dari Jepang. Proyek ini berfokus pada pengembangan sistem yang menghubungkan deteksi gempabumi, penyampaian peringatan dini, dan tindakan respons yang diperlukan.
Pendekatan end-to-end menempatkan kesiapan pengguna sebagai bagian penting dari efektivitas sistem. Keberhasilan peringatan dini tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi mendeteksi gempa dan mengirimkan notifikasi, tetapi juga pada kemampuan penerima memahami informasi dan melakukan tindakan keselamatan secara tepat.
Dalam konteks satuan pendidikan, simulasi menjadi salah satu sarana untuk mengamati respons warga sekolah, mengidentifikasi kendala, serta merumuskan perbaikan prosedur kesiapsiagaan. Hasil evaluasi diharapkan mendukung pengembangan sistem peringatan dini yang lebih terintegrasi dengan kebutuhan pengguna di lapangan.
Partisipasi SMAN 112 Jakarta dalam simulasi gempabumi serentak ini menegaskan pentingnya keterpaduan antara teknologi peringatan dini, pengetahuan kebencanaan, kesiapan sarana, dan keterampilan warga sekolah dalam merespon peringatan dini dengan melakukan tindakan penyelamatan diri dan evakuasi mandiri. Penguatan kesiapsiagaan secara berkelanjutan diharapkan dapat membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman serta meningkatkan kemampuan warga sekolah dalam menghadapi ancaman gempabumi.
------------------------
*) Penulis : Tasril Mulyadi, S.Pd., C.T. merupakan Praktisi Pendidikan Kebencanaan dan Fasilitator SPAB, saat ini sedang menempuh pendidikan pada program studi Magister Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta.
Sumber : SIAGABENCANA.com









LEAVE A REPLY