
Keterangan Gambar : DR. Selamat Ginting (atas)
JAKARTA, pjminews.com- Pengamat politik dan pertahanan Selamat Ginting menyerukan pihak-pihak yang disebutnya berada dalam lingkaran mantan Kapolri Jenderal (Purn) Listyo Sigit Prabowo agar menyerahkan diri. Dia bahkan meminta aparat memperketat pengawasan bandara dan imigrasi untuk mencegah pihak-pihak yang dituding terlibat dalam dugaan makar melarikan diri ke luar negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan Selamat Ginting dalam diskusi SAJID Friday Morning Talk bertajuk "Penyadapan LSP, Makar, dan Masa Depan Gibran" di AQL Islamic Center, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan Ketua Umum Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID), KH Bachtiar Nasir, sebagai moderator.
"Orang yang menjadi lingkaran dari Listyo Sigit Prabowo, menyerahlah. Mundur saja. Anda tidak bisa lagi melarikan diri. Semua sudah terdeteksi Anda sedang di mana atau mau ke mana," kata Selamat.
Dia juga meminta pengawasan di bandara dan pintu keimigrasian diperketat. Menurut dia, langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan pihak-pihak yang dituding terlibat dalam persoalan tersebut meninggalkan Indonesia.
Selamat bahkan mengaitkan dugaan penyadapan dengan persoalan yang lebih luas, yakni dugaan penyalahgunaan kewenangan dan sabotase terhadap kepentingan negara. Dia menuding ada keterlibatan sejumlah jenderal polisi, oligarki, dan petualang politik.
"Pengkhianatan terhadap bangsa dan negara yang dilakukan oleh para jenderal polisi bekerja sama dengan oligarki bersama dengan petualang-petualang politik," ujarnya.
Namun, tudingan mengenai keterlibatan para jenderal polisi, oligarki, maupun aliran dana yang disampaikan Selamat tersebut merupakan pernyataan narasumber dalam diskusi yang masih memerlukan pembuktian dan verifikasi.
Selamat juga menyoroti dugaan penyadapan yang menurut dia tidak hanya menyasar kepala negara, tetapi juga sejumlah pejabat tinggi negara, pimpinan partai politik, tokoh masyarakat, media massa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga pengamat.
Dia menilai, jika perangkat negara digunakan untuk kepentingan di luar kewenangan, persoalan tersebut bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan dapat mengarah pada tindakan sabotase.
"Ketika dilakukan untuk tujuan-tujuan tidak baik, ini kan artinya sabotase," kata dia.
Dalam diskusi tersebut, Bachtiar Nasir turut mempertanyakan kemungkinan adanya penguasaan data negara dan upaya menghambat program-program pemerintah melalui dugaan penyalahgunaan perangkat penyadapan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Selamat menyebut kemungkinan sabotase terhadap program negara perlu menjadi perhatian. Meski demikian, dia menegaskan kritik terhadap kebijakan pemerintah tetap diperlukan sepanjang dilakukan secara konstitusional.
"Kalau kita tidak setuju dengan beberapa program pemerintah, artinya harus kita kritisi. Tapi kalau ada tujuan lain, ya enggak bisa," ujarnya.
Minta Gibran Mundur
Selain menyinggung dugaan penyadapan dan makar, Selamat juga melontarkan pernyataan kontroversial mengenai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dia meminta Gibran mengundurkan diri dari jabatannya. Selamat juga menyerukan agar mantan Presiden Joko Widodo membantu putranya menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Kalau perlu di Jumat, hari Jumat ini, Jokowi membantu Gibran menghadap presiden buat surat pengunduran diri. Lebih baik," kata dia.
Selamat bahkan memperingatkan potensi munculnya demonstrasi massa yang menyasar sejumlah lokasi, termasuk kantor partai politik, Solo, dan Istana Wakil Presiden apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Dia juga menyinggung polemik politik dinasti keluarga Jokowi dan menyampaikan tudingan mengenai dugaan keterkaitan mantan presiden tersebut dengan aktivitas penyadapan. Pernyataan itu merupakan pandangan dan tudingan Selamat yang belum dibuktikan.
Sementara itu, Bachtiar Nasir mengingatkan pentingnya kewaspadaan para pemangku amanah di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dia menilai keberadaan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut perlu menjadi perhatian agar tidak menimbulkan persoalan dalam rantai komando institusi negara.
Selamat mengajak masyarakat untuk tetap bersatu dan mendukung langkah negara dalam menangani persoalan tersebut. Dia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh konflik internal maupun perbedaan politik.
"Kita menyatu saja. Tunduk dan patuh apa kata komando negara karena kita sedang berhadapan dengan pengkhianat negara," ujarnya.***(pjmi/Il/ibn)










LEAVE A REPLY