Home Edukasi Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah Hadiri Media Gathering Hari Santri 2026

Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah Hadiri Media Gathering Hari Santri 2026

Dorong Penguatan Pesantren

33
0
SHARE
Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah Hadiri Media Gathering Hari Santri 2026

Keterangan Gambar : Sekretaris Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah, Assoc. Prof. Dr. Akmal Rizki Gunawan Hsb (kanan) Dirjen Pesantren, Dr. H. Basnang Said, M.Ag. (kiri). foto alws

JAKARTA, pjminews.com- Majelis Pendidikan Pengurus Besar (PB) Al-Washliyah menghadiri Media Gathering Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia di Cosmo Amarossa Hotel, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

https://parahyangan-post.com/berita/detail/peringatan-hari-santri-2026-basnang-said-kemenag-dorong-pesantren-jadi-kekuatan-ekonomi

Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah, Assoc. Prof. Dr. Akmal Rizki Gunawan Hsb, M.A., mewakili PB Al-Washliyah  menghadiri undangan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.

Media gathering tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan dan penguatan pesan Hari Santri 2026, sekaligus menjadi ruang dialog antara Kementerian Agama, insan media, serta berbagai unsur yang memiliki perhatian terhadap perkembangan pesantren dan pendidikan keagamaan di Indonesia.

Menteri Agama dalam paparannya menekankan pentingnya penghargaan bangsa Indonesia terhadap jasa para ulama dan santri dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia menyinggung Resolusi Jihad yang digelorakan para ulama sebagai salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu terus mengingat kontribusi ulama dan santri dalam perjalanan bangsa. Ia bahkan menyampaikan bahwa ketika seorang santri menyuarakan sesuatu, suara tersebut merupakan representasi dari suara langit.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama juga mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto dengan istilah “Jas Hijau”, yang merupakan akronim dari “Jangan Sekali-kali Lupakan Jasa Ulama.” Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat agar kontribusi ulama terhadap bangsa dan negara senantiasa mendapatkan penghargaan.

Menteri Agama juga menyoroti penguatan kelembagaan pesantren pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama, yang sebelumnya masih berbentuk Direktorat Pesantren.

Dirjen Pesantren Paparkan Program 100 Hari

Selain Menteri Agama, Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag., turut menyampaikan paparan mengenai arah dan program kerja Direktorat Jenderal Pesantren, khususnya dalam 100 hari pertama.

Basnang Said menjelaskan bahwa penguatan Direktorat Jenderal Pesantren tidak hanya berkaitan dengan perubahan struktur kelembagaan, tetapi juga menyangkut penegasan distingsi antara Direktorat Jenderal Pesantren dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Distingsi tersebut, menurutnya, perlu dibangun mulai dari aspek epistemologi, ontologi, hingga aksiologi, sehingga keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren memiliki basis keilmuan, kelembagaan, dan orientasi kebijakan yang jelas.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah penguatan sistem pendataan pesantren secara nasional. Pendataan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengetahui jumlah pesantren, tetapi juga untuk memetakan karakteristik dan skala masing-masing pesantren.

Dalam pemaparannya, Basnang Said menyampaikan rencana pengelompokan pesantren berdasarkan jumlah santri. Di antaranya, Tipe A untuk pesantren dengan jumlah santri lebih dari 5.000 orang, Tipe B dengan jumlah santri 1.000–5.000 orang, Tipe C dengan jumlah santri 100–500 orang, serta Tipe D untuk pesantren dengan jumlah santri 1–15 orang.

Pendataan dan kategorisasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan serta program pembinaan pesantren yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing lembaga.

Dalam paparannya, Dirjen Pesantren juga menekankan pentingnya keberadaan afiliasi organisasi keagamaan dalam ekosistem pesantren. Ia menyebut sejumlah organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Al-Washliyah sebagai contoh organisasi yang menjadi bagian dari kehidupan keumatan di Indonesia.

Menurutnya, keterhubungan pesantren dengan organisasi keagamaan dapat menjadi salah satu bagian dari penguatan ekosistem pendidikan pesantren sekaligus memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan pesantren tetap berada dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara serta tidak bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Al-Washliyah Dorong Penguatan Pesantren

Kehadiran Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk terus mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan Islam dan pesantren.

Sebagai organisasi Islam yang memiliki sejarah panjang dalam bidang pendidikan, Al-Washliyah memiliki perhatian terhadap penguatan lembaga pendidikan, termasuk pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya.

Melalui forum tersebut, Majelis Pendidikan PB Al-Washliyah juga memperoleh ruang untuk mengikuti secara langsung arah kebijakan baru pemerintah terkait kelembagaan pesantren, pendataan nasional, serta penguatan posisi pesantren dalam pembangunan pendidikan dan kehidupan kebangsaan.

Kegiatan Media Gathering Hari Santri 2026 ditutup dengan dialog dan komunikasi antara jajaran Kementerian Agama dengan peserta, termasuk unsur organisasi keagamaan dan media, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam mengembangkan pesantren dan pendidikan keagamaan di Indonesia.***(pjmi/IL/sp)