Home Sport Life Teknologi Esports Indonesia Naik Level, Bukan Lagi Sekadar Main Game

Esports Indonesia Naik Level, Bukan Lagi Sekadar Main Game

36
0
SHARE
Esports Indonesia Naik Level, Bukan Lagi Sekadar Main Game

JAKARTA -  Esports Indonesia memasuki babak baru. Perkembangan olahraga elektronik kini tidak lagi semata-mata dipandang sebagai aktivitas bermain game, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari prestasi olahraga, ekonomi digital, diplomasi, hingga strategi negara.

Deputi Bakom RI, Ulta Levenia, mengatakan perubahan tersebut perlu dipahami masyarakat seiring semakin besarnya perhatian negara-negara di dunia terhadap esports.

Menurut Ulta, esports telah berkembang menjadi sebuah ekosistem strategis yang melibatkan atlet, industri, teknologi, ekonomi digital, hingga kepentingan nasional di panggung internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah keberangkatan Tim Nasional Esports Indonesia menuju Jepang untuk berlaga pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia turun pada delapan nomor pertandingan dengan target satu medali emas, tiga perak, dan empat perunggu.

“Sebelum bilang ‘itu cuma main game’, izinkan saya cerita sedikit sejarah. Kalau papan catur saja bisa jadi medan geopolitik, sekarang pikirkan esports. Ditonton ratusan juta orang, industri bernilai triliunan. Negara-negara besar membangun tim nasionalnya seperti membangun armada,” ujar Ulta kepada media di Jakarta, Minggu (27/9/2026).

Ulta kemudian mengangkat pertandingan catur antara Bobby Fischer dan Boris Spassky di Reykjavik, Islandia, pada 1972. Pertandingan tersebut berlangsung di tengah ketegangan Perang Dingin dan kemudian dikenal luas sebagai salah satu simbol persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Bagi Ulta, sejarah tersebut menunjukkan bahwa arena kompetisi olahraga dapat memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pertandingan. Kompetisi dapat menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan, pengaruh, teknologi, serta identitas suatu negara.

Kepemimpinan PB ESI

Perkembangan esports Indonesia juga memasuki fase baru setelah Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Herindra dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) periode 2026–2030 pada 15 September 2026.

Latar belakang Herindra yang bukan berasal dari atlet esports profesional sempat menjadi perhatian publik. Namun, Ulta menilai posisi pimpinan organisasi esports pada tingkat nasional lebih berkaitan dengan aspek tata kelola dan strategi organisasi daripada kemampuan teknis bermain game.

“Karena semakin tinggi puncak hierarki pimpinan esports itu menjadi governance position, bukan posisi teknis,” ujarnya.

Menurut Ulta, seorang pemimpin organisasi esports perlu memahami tata kelola, pembinaan atlet, pengembangan ekosistem, serta bagaimana membawa kepentingan Indonesia dalam kompetisi internasional.

“Yang paling utama adalah mengerti bagaimana atlet mendapatkan yang terbaik. Baik dari latihan, sampai prestasinya,” kata Ulta.

Dari Gaming ke Arena Strategis

Ulta juga menyoroti perkembangan organisasi esports di berbagai negara. Menurutnya, posisi strategis dalam organisasi esports tidak selalu ditempati oleh mantan pemain profesional.

Karena itu, ia mengajak publik melihat kepemimpinan esports dari sisi tata kelola, kebijakan, pembinaan atlet, dan dampaknya terhadap perkembangan ekosistem secara keseluruhan.

“Masuknya Jenderal Herindra ke dalam puncak pimpinan esports Indonesia menunjukkan juga bahwa esports ini bukan lagi hanya sekadar gaming, tapi juga sebagai instrumen strategi negara, soft power, dan diplomasi hingga ekonomi digital,” imbuhnya.

Perkembangan tersebut membuat esports memiliki ruang yang semakin luas dalam ekosistem olahraga dan ekonomi digital. Di sisi lain, atlet tetap menjadi bagian utama yang menentukan prestasi Indonesia dalam setiap kompetisi internasional.

Atlet Esports Bawa Nama Indonesia

Ulta menegaskan bahwa keberangkatan Timnas Esports Indonesia ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 bukan sekadar kompetisi antarpemain atau antarklub.

Para atlet yang bertanding membawa nama Indonesia di arena olahraga internasional.

“Mereka bukan sekadar gamers. Mereka atlet. Mereka duta, mereka pasukan terdepan Indonesia di arena persaingan zaman ini,” katanya.

Karena itu, Ulta mengajak masyarakat memberikan dukungan kepada para atlet esports Indonesia sebagaimana dukungan diberikan kepada atlet dari cabang olahraga lainnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima berbagai informasi mengenai perkembangan esports, terutama dengan semakin besarnya perhatian publik terhadap olahraga digital tersebut.

Menurutnya, perkembangan esports perlu dilihat sebagai bagian dari perubahan lanskap kompetisi di era digital, yang mencakup aspek olahraga, teknologi, ekonomi, dan hubungan antarnegara.

“Untuk seluruh delegasi esports kita, selamat bertanding, main dengan tenang, menang dengan terang. Stop termakan framing. Cari substansinya. Kasih ulti dengan bukti,” pungkas Ulta.