Home Seni Budaya Festival Tutur Pertiwi, Panggung Diplomasi Budaya Indonesia

Festival Tutur Pertiwi, Panggung Diplomasi Budaya Indonesia

16
0
SHARE
Festival Tutur Pertiwi, Panggung Diplomasi Budaya Indonesia

JAKARTA, 5 September 2026 — Bagaimana Indonesia diceritakan oleh orang asing yang jatuh cinta pada bahasa dan budayanya?

Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya melalui Festival Tutur Pertiwi 2026, sebuah ajang kreatif yang mempertemukan pembelajar bahasa Indonesia dari berbagai belahan dunia untuk membuat dan mempublikasikan cerita tentang Indonesia dalam bahasa Indonesia.

Diselenggarakan sepanjang Agustus 2026, festival perdana ini melibatkan peserta dari 10 negara: Mesir, Yaman, Malaysia, Sudan, Pakistan, Korea Selatan, Madagaskar, Panama, Nigeria, dan Mali.

Alih-alih sekadar menguji kemampuan tata bahasa dan percakapan, Festival Tutur Pertiwi membawa peserta ke tahap yang lebih jauh: menggunakan bahasa Indonesia untuk bercerita kepada publik melalui konten digital.

Peserta ditantang membuat video mengenai empat tema, yaitu kecintaan terhadap Indonesia dan bahasa Indonesia, nasi Padang, destinasi wisata Bukittinggi dan Puncak Lawang, serta kekayaan bahasa daerah Indonesia.

Karya mereka wajib disampaikan dalam bahasa Indonesia dan dilengkapi terjemahan bahasa Inggris atau bahasa asal peserta. Format ini membuat cerita tentang Indonesia dapat menjangkau dua kelompok sekaligus: masyarakat Indonesia dan audiens internasional yang mengikuti para peserta di media digital.

Indonesia Dilihat dari Mata Dunia

Dari sepuluh negara yang berpartisipasi, muncul beragam cerita personal tentang bagaimana Indonesia dikenal dari luar negeri.

Andry Njakatiana Anthonio dari Madagaskar, yang meraih Juara 1, misalnya, mengenal Indonesia sejak kecil melalui lagu-lagu Indonesia yang sering diputar orang tuanya. Salah satu lagu yang membekas dalam ingatannya adalah karya Betharia Sonata.

Rasa penasaran terhadap makna lagu membuat Andry mulai mempelajari bahasa Indonesia. Dari sana, ketertarikannya berkembang menjadi upaya memahami karakter dan budaya Indonesia.

Sementara Mitzel Libania Rodríguez Lino dari Panama, peraih Juara 2, memiliki pengalaman berbeda. Indonesia awalnya bukan negara yang dikenalnya. Namun, proses belajar bahasa Indonesia kemudian membawanya mendapatkan kesempatan memperoleh beasiswa ke Indonesia.

Pengalaman tersebut membuat Indonesia tidak lagi sekadar menjadi nama sebuah negara. Ia berkesempatan mengenal masyarakat, kehidupan, dan keberagaman Indonesia secara langsung.

Adapun Han Seungik dari Korea Selatan, yang meraih Juara Favorit, memilih mengangkat kekayaan bahasa daerah Indonesia. Menurutnya, keberadaan ratusan bahasa daerah merupakan kekayaan yang perlu dijaga, sementara bahasa Indonesia memiliki peran penting sebagai bahasa pemersatu.

Ketiga cerita tersebut menunjukkan satu hal: Indonesia dapat dikenalkan kepada dunia melalui pengalaman personal, bukan hanya melalui promosi formal.

Bahasa Sebagai Jalan Masuk Mengenal Indonesia 

Gagasan Festival Tutur Pertiwi digagas oleh Devi Virhana, Pendiri BIPA Pertiwi sekaligus Festival Director dan praktisi komunikasi.

Devi melihat pembelajaran bahasa Indonesia memiliki potensi yang lebih besar ketika dipadukan dengan kemampuan komunikasi dan teknologi digital.

“Bahasa akan terlihat ketika digunakan dan dipublikasikan. Apalagi sekarang kita berada di era digital. Saya ingin warga negara asing tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi berani menggunakan bahasa itu untuk membuat karya dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia,” ujar Devi.

Atas dasar itulah festival tidak hanya memberikan ruang kompetisi. Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai komunikasi publik dan produksi konten.

Mereka dikenalkan pada proses membuat konten mulai dari menemukan ide, menyusun naskah, berbicara di depan kamera hingga produksi dan penyuntingan video.

Peserta juga mendapatkan pelatihan dasar Master of Ceremony (MC), konten kreator pemula, serta informasi mengenai peluang beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, Festival Tutur Pertiwi ingin mendorong lahirnya warga negara asing yang mampu menjadi komunikator Indonesia di ruang digital.

Tidak Mengejar Hadiah Uang

Berbeda dengan banyak kompetisi, Festival Tutur Pertiwi tidak menjadikan uang tunai sebagai hadiah utama.

Seluruh peserta memperoleh sertifikat dan buku pembelajaran bahasa Indonesia dalam format digital, sekaligus kesempatan mengikuti pelatihan pengembangan kemampuan komunikasi.

Para pemenang mendapatkan apresiasi tambahan berupa voucher menginap, kesempatan publikasi di media daring Indonesia, serta dukungan produksi dan penyuntingan konten.

Menurut Devi, pendekatan tersebut sengaja dipilih agar festival tidak berhenti pada momentum perlombaan.

“Harapannya bukan hanya selesai setelah pengumuman pemenang. Kami ingin peserta terus berkarya, terus menggunakan bahasa Indonesia dan memiliki kemampuan untuk memperkenalkan Indonesia melalui platform yang mereka miliki,” ujarnya.

Festival Tutur Pertiwi mendapat dukungan dari Hotel Mulia Syariah Bukittinggi, Hotel Raudah Bukittinggi, dan Movex.

Proses penilaian dilakukan oleh Mariam Ashraf, konten kreator asal Mesir; Rana Setiawan, editor dan jurnalis senior; serta Teja Kurniawan, Co-Founder BIPA Pertiwi sekaligus konten kreator.

Devi berharap penyelenggaraan perdana ini menjadi titik awal bagi gerakan yang lebih luas.

“Saya berharap Festival Tutur Pertiwi terus berkembang dan semakin banyak warga negara asing yang menjadi konten kreator yang produktif menggunakan bahasa Indonesia. Semoga bahasa Indonesia semakin banyak digunakan untuk menuturkan Indonesia kepada dunia,” katanya.

Jika semakin banyak warga dunia mampu berbicara tentang Indonesia dengan bahasa Indonesia, maka promosi tentang Indonesia tidak lagi hanya datang dari dalam negeri.

Indonesia dapat diceritakan dari berbagai sudut dunia dengan bahasa yang sama, tetapi dengan pengalaman yang berbeda.