Home Siaran Pers Ketum Kagegama Pimpin Guru Besar Keilmuan Geografi RDPU dengan Komisi X DPR RI

Ketum Kagegama Pimpin Guru Besar Keilmuan Geografi RDPU dengan Komisi X DPR RI

Bahas Ketahanan Nasional dan Poros Maritim Dunia.

159
0
SHARE
  Ketum Kagegama  Pimpin Guru Besar Keilmuan Geografi RDPU dengan Komisi X DPR RI

Keterangan Gambar : Tim Kagegama di ruang tunggu Komisi X sebelum RDP dimulai (fotokagegama)

Jakarta, pjminews.com-Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi X DPR RI, Rabu 8 April 2026, mengenai Sistem Pendidikan Nasional menjadi momentum strategis untuk menegaskan kembali posisi mata pelajaran geografi dalam pembangunan bangsa.

Kegiatan ini menghadirkan pandangan komprehensif dari segenap guru besar keilmuan geografi yang dikoordinatori oleh Keluarga Alumni Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (Kagegama). Forum ini dipimpin secara koordinatif oleh Ketua Umum Kagegama, Dr. H. Joncik Muhammad, S.Si., S.H., M.M., M.H., yang menegaskan pentingnya penguatan geografi sebagai disiplin ilmu yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga fundamental dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam suasana dialog yang konstruktif, para narasumber menyampaikan materi bertajuk “Urgensi Mata Pelajaran Geografi: Pemersatu Bangsa, Pondasi Kedaulatan NKRI, Ketahanan Nasional, dan Poros Maritim Dunia.” Materi ini menyoroti peran strategis geografi dalam membentuk kesadaran ruang, pemahaman kewilayahan, serta identitas kebangsaan yang kokoh di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Geografi dipandang sebagai ilmu yang menjembatani aspek fisik dan sosial, sehingga mampu memberikan perspektif holistik terhadap berbagai tantangan nasional.

Para guru besar  menekankan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki karakteristik geografis yang unik dan kompleks. Kondisi ini menuntut generasi muda untuk memiliki literasi geospasial yang memadai agar mampu memahami potensi sekaligus kerentanan wilayahnya. Tanpa pemahaman tersebut, kebijakan pembangunan berisiko tidak tepat sasaran dan bahkan dapat mengancam keberlanjutan lingkungan serta stabilitas sosial.

Lebih lanjut, geografi juga memiliki peran vital dalam memperkuat ketahanan nasional. Dalam konteks ini, ketahanan tidak hanya dimaknai sebagai aspek militer, tetapi juga mencakup ketahanan pangan, energi, lingkungan, dan sosial budaya. Melalui pembelajaran geografi, peserta didik diajak untuk memahami keterkaitan antara manusia dan lingkungan, serta pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Hal ini menjadi kunci dalam menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perubahan iklim hingga bencana alam yang kerap melanda Indonesia.

Dalam perspektif kedaulatan negara, geografi berfungsi sebagai dasar dalam memahami batas wilayah, potensi sumber daya, serta posisi strategis Indonesia di kancah global. Pengetahuan ini sangat penting dalam menjaga integritas wilayah dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berdaulat. Para narasumber menegaskan bahwa lemahnya pemahaman geografi dapat berdampak pada rendahnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga wilayah negara, baik darat, laut, maupun udara.

Selain itu, geografi juga berkontribusi besar dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut yang luas, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor maritim. Namun, potensi tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal jika didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki pemahaman geografis yang kuat. Oleh karena itu, penguatan mata pelajaran geografi di tingkat pendidikan dasar dan menengah menjadi langkah strategis untuk menyiapkan generasi yang mampu mengelola dan memanfaatkan kekayaan maritim secara berkelanjutan.

Ketua Umum Kagegama, Dr. H. Joncik Muhammad, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa geografi harus ditempatkan sebagai mata pelajaran inti dalam kurikulum nasional. Ia menekankan bahwa geografi bukan sekadar pelajaran hafalan, melainkan sarana untuk membentuk cara berpikir kritis, analitis, dan kontekstual. Dengan demikian, geografi dapat menjadi alat pemersatu bangsa yang efektif, karena mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui pemahaman yang mendalam terhadap ruang hidup bangsa Indonesia.

RDPU ini juga menjadi ruang bagi para akademisi untuk memberikan masukan konstruktif terhadap perumusan kebijakan pendidikan nasional. Agenda ini dibersamai Prof Suratman dan Prof Projo Danoedoro dari Fakultas Geografi UGM, Prof Supriatna dari Universitas Indonesia, Prof Enok Maryani dari Universitas Pendidikan Indonesia, Prof Cahyadi Setiawan dari Universitas Negeri Jakarta, Prof Muhammad Nursya'ban dari UNY, dan Dr. R.Ngt. Lina Wahyuni, S.Si., M.Sc. Salah satu rekomendasi utama yang disampaikan adalah perlunya peningkatan porsi dan kualitas pembelajaran geografi dalam kurikulum, termasuk penguatan kompetensi guru serta pemanfaatan teknologi geospasial dalam proses pembelajaran. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap geografi, serta mendorong lahirnya generasi yang memiliki kesadaran ruang yang tinggi.

Di akhir kegiatan, Komisi X DPR RI menyampaikan apresiasi atas kontribusi pemikiran yang diberikan oleh Kagegama dan para guru besar geografi. Masukan yang disampaikan dinilai sangat relevan dalam upaya menyempurnakan Sistem Pendidikan Nasional agar lebih responsif terhadap kebutuhan zaman. RDPU ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat posisi geografi dalam kurikulum nasional, sehingga mampu berkontribusi secara nyata dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, tangguh, dan berdaya saing global.

Dengan semangat kolaborasi antara akademisi dan pembuat kebijakan, penguatan mata pelajaran geografi diyakini akan menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Geografi bukan hanya tentang memahami peta dan wilayah, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif sebagai bangsa yang besar, beragam, dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga serta mengelola ruang hidupnya secara bijaksana.***(pjmi/sipers-kagegama)