
Keterangan Gambar : Prof.Dr.Hj. Nyak Umaimah Wahid, M.S (foto dok)
KOMUNIKASI merupakan kehidupan itu sendiri. Komunikasi selalu integral dalam proses kehidupan manusia, termasuk dalam membangun dan menjaga hubungan dengan Allah SWT. Hubungan dengan sesama manusia adalah Hablum minanas, sedangkan hubungan manusia dengan Allah adalah hamlum Minallah. Kedua hubungan ini harus dibangun, dijaga dan terus dikembangkan agar kehidupan dunia dan akhirat sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulullah SAW. Ibadah haji merupakan ibadah yang tercakup keduanya.
Komunikasi adalah landasan yang membentuk interaksi dan hubungan sosial antarmanusia. Komunikasi memungkinkan peningkatan kualitas hidup manusia dalam sektor atau bidang apa pun, memberi peluang bagi pengembangan diri dan lingkungan yang lebih besar dan luas, serta mencerminkan dinamika dan dialektika antaranggota masyarakat. Tindakan komunikasi tersebut berlangsung sepanjang hidup manusia. Karena itu, dalam upaya memahami diri, lingkungan, kelompok, organisasi, atau bahkan negara, seseorang tidak bisa terlepas dari proses dan tindakan komunikasi. Dengan kata lain, realitas yang dikonstruksi melalui komunikasi pada gilirannya menjadi syarat bagi pengembangan kualitas dan peradaban manusia.
Komunikasi dalam Islam bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga menjaga adab, kejujuran, dan manfaat dari perkataan itu sendiri. Allah memerintahkan kaum beriman untuk berkata dengan perkataan yang benar dan baik, bukan ucapan yang merusak, memfitnah, atau menipu. Rasulullah SAW. juga menegaskan bahwa ukuran keselamatan lisan adalah berkata baik atau diam.
Sebagaimana Firman Allah Surat AlAhzab ayat 70 yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.
Berkata-kata yang benar merupakan perintah Allah SWT bagi orang-orang yang bertawqa, salah satunya ketika sedang berhati. Ibadah haji merupakan panggilan Allah SWT, oleh karenanya salah satu bentuk kecintaan kepada Allah hendaklah berkomunikasi dengan kata-kata yang jujur, lembut, dan membawa kebaikan. Namun di tengah ujian berat ketika melaksanakan haji yang menguras tenaga sehingga mengalami 1) kelelahan disebabkan kurang tidur dan jalan jauh, 2) kerumunan masif (desak desakan dan antrean panjang, dan 3) perbedaan budaya (bahasa, kebiasaan beragam dari seluruh dunia) yang merupakan ‘zona rawan gesekan’ yang berpeluang menimbulkan emosi, salah paham dan peertengkaran. Oleh sebab itu komunikasi yang bahagia saat diperlukan agar haji menjadi mabrur.
Komunikasi bahagia dan ibadah haji adalah dua hal yang saling melengkapi. Komunikasi yang santun, sabar, dan penuh kasih membantu jamaah mengatasi tantangan fisik, menjaga fokus spiritual, dan menebarkan energi positif kepada sesama jemaah dari berbagai latar belakang budaya. Mulyana mendefiniskan komunikasi sebagai suati proses menciptakan, mengirimkan, menerima, dan memahami pesan (Holland, 1997). Ia menekankan bahwa komunikasi melibatkan saluran dan konteks yang sangat beragam serta faktor-faktor sosial dan budaya yang memengaruhi efektivitas proses komunikasi tersebut (Wahid, 2026). Artinya, akan membangun hubungan baik dan saling memahami antar jemaah yang berasal dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan bahasa.
Komunikasi Antarbudaya (Hablum Minannas)
Hablum minannas adalah hubungan baik antar manusia dalam Islam, jadi kalau dikaitkan dengan komunikasi, artinya berkomunikasi dengan sopan, jujur, empati, dan saling menghargai. Konsep ini menekankan bahwa komunikasi bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menjaga keharmonisan dan tidak menyakiti orang lain.
Komunikasi antar manusia juga akan terjadi serempak dalam di Almuzna baik antara sesama jamaah haji Indonesia, antara jamaah haji dengan petugas, maupun komunikasi dengan jamaah di seluruh dunia. Dituntun kesabaran, sikap yang santun, kepekaan dan salaing pengertian agar suasana komdusif dan mengembirakan. Dalam perspektif hablum minannas, komunikasi yang baik harus membangun pengertian, memperkuat silaturahmi, dan menghindari fitnah, gosip, serta kata-kata yang kasar. Jika kita fokus kepada komunikasi antara petugas haji dan jamaah haji, ini menjadi salah satu penentu utama melayanan haji 2026 akan berlangsung harmoni dan menyenangkan: jamaah sudah sepatutnya memproleh pelayanan maksimal terkait komunikasi yang santun dan menenangkan jamaah.
Petugas haji pun sangat patut dihargai agar semangat melayani terus membara dan menjadi kegembiraan sekaligus tanggug jawab petugas memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah. Ditengah situasi arafah yang padat dan terpusat maka komunikasi yang tepat, saling menghagai, solutif dan resposif sangat diperlukan agar pelayanan haji 2026 terlaksana dengan sangat baik. Semua pihak harus terbuka untuk mendengarkan orang lain dengan baik sebelum merespons.
Masyarakat tentu juga boleh menyampaikan kritik dengan bahasa yang santun atas pelayanan yang dianggap kurang maksimal karena hal itu bagan dari komunikasi dua arah untuk saling mengisi, mengingatkan serta sekaligus mencari solusi atas permasalahan yang muncul. Sikap saling menghormati perbedaan pendapat, dan selalu tergerak untuk saling menolong dan memberi dukungan lewat kata-kata yang baik. upaya lainnya yang juga sangat penting adalah menjaga lisan agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Artinya komunikasi bukan sekedar berkata-kata saja, melainkan ada nilai kebaikan dan makna dalam setiap perkataan yang berlangsung. Komunikasi atas dasar saling menghargai akan tercipta akan melahirkan kegembiraan bagi jamaah, petugas dan berbagai pihak lainya, sehingga tercipta pelayanan haji 2026 yang prima.
Jika bertemu dan berinteraksi dengan jamaah manca negara, komunikasi dapat dilakukan menggunakan bahasa universal sehingga dapat dipahami dan diterima secara umum oleh masyarakat global dan komunikasi yang terjadi mampu menimbulkan kegembiraan dan mengan ukhuwah islamiyah. Misalnya dengan mengucapkan salam, tersenyum ataupun saling menbantu dan mendukung proses pelaksanaan rukun dan wajib haji, sehingga dapat berjalan dengan lancar. Kuncinya terletak pada kesabaran, pengertian dan saling menghormati sekaligus memahami perbedaan budaya dan karakter jemaah lain untuk meminimalisir miskomunikasi dan menjaga kekhusyukan ibadah.
Praktek komunikasi yang baik sejalan dengan nilai-nilai ibadah haji, antara lain:
- Menghindari Ghibah dan Debat: Sebagaimana larangan berdebat saat Ihram, komunikasi bahagia berarti menahan diri dari menyebarkan gosip atau memancing konflik.
- Tutur Kata Lembut: Berbicara dengan santun, baik di lingkungan keluarga, tetangga, maupun komunitas.
- Menebar Manfaat: Komunikasi harus membawa kedamaian. Seorang yang telah menyempurnakan rukun Islam kelima ini akan selalu berupaya memberi nasihat yang baik dan menghibur hati yang sedang gundah.
Haji juga mengajarkan tolerasi, dimana pertemuan jutaan orang dari berbagai negara dan budaya memaksa jamaah menghormati perbedaan kebiasaan dan bahasa, sehingga toleransi praktis menjadi kebutuhan sehari-hari di Tanah Suci. Kondisi padat dan keterbatasan fasilitas mendorong sikap saling mengalah, berbagi ruang, dan tolong-menolong—praktik nyata toleransi sosial.
Komunikasi Transendental (Hablum Minallah)
Dalam konteks haji, komunikasi hablum minallah berarti membangun hubungan yang sangat dekat dengan Allah melalui ibadah, doa, zikir, niat yang ikhlas, dan ketaatan saat menjalankan semua rangkaian haji. Intinya, haji menjadi sarana komunikasi spiritual antara hamba dan Allah. Haji adalah puncak komunikasi spiritual seorang hamba dengan Allah SWT. Komunikasi transendental ini dibangun melalui:
1) Doa dan Dzikir yaitu Memperbanyak komunikasi batin kepada Sang Pencipta di tempat-tempat mustajab seperti Multazam, Raudhah, dan selama wukuf di Arafah. 2) Bersyukur dan Ikhlas yaitu Mengubah keluhan menjadi doa. Ingatlah bahwa tantangan selama prosesi haji adalah ujian untuk mendapatkan ketenangan jiwa.
3) Cerdas Bermedia Sosial yaitu Bagikan cerita perjalanan dan pengalaman spiritual yang menyejukkan. Jauhi penyebaran hoaks atau keluhan yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Hablum minallah pada haji dapat diimplementasi dengan sungguh-sungguh dna penuh cinta dAlam bentuk
1) berniat karena Allah.
2) menjaga adab dan kekhusyukan
3) banyak berdoa dan berdzikir.
4) menaati seluruh aturan manasik.
5) bersabar dalam ujian fisik dan emosi selama ibadah.
6) hubungan dengan ibadah haji.
Hal ini karena hakikatnya haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga ibadah yang menuntut kepasrahan total kepada Allah. Karena itu, komunikasi hablum minallah di haji berarti seluruh tindakan jamaah diarahkan untuk ibadah, bukan sekadar ritual lahiriah. Misalnya saat wukuf di Arafah, seorang jamaah berdoa dengan khusyuk, memohon ampunan, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Itu adalah bentuk komunikasi hablum minallah yang paling kuat dalam haji.
Keterkaitan antara komunikasi bahagia dan kemabruran haji:
Rasulullah SAW bersabda bahwa ciri utama haji mabrur adalah ith’am ath-tha’am (memberi makan) dan lin al-kalam (menebarkan salam/berkata baik). Komunikasi yang menyejukkan, penuh empati, dan membawa kebahagiaan menjadi bukti nyata perubahan akhlak seseorang setelah berhaji. Komunikasi bahagia, haji mabrur, tuliskan artikel tentan komunikasi yang dilarang dan diabjurkan dalam islam dan penyebab mencapai haji mabrur, lengapi ayat dan hadis. Komunikasi adalah kunci untuk meraih Haji Mabrur (haji yang diterima Allah). Selama beribadah, jemaah dilarang berkata kotor, berdebat, dan berbuat maksiat (rafats, fusuq, jidal). Transformasi komunikasi dari egois menjadi santun, sabar, dan dermawan adalah indikator utama diterimanya ibadah haji.
Korelasi erat antara komunikasi dan haji mabrur meliputi:
1.Penyempurna Ibadah yaitu : salah satu tanda kesempurnaan haji adalah kebiasaan menyebarkan kedamaian melalui tutur kata yang baik dan gemar bersedekah.
2.Transformasi Akhlak yaitu haji mabrur menuntut komunikasi vertikal (doa/zikir) dan horizontal (silaturahim, empati) yang lebih baik. Jemaah yang mabrur akan lebih ramah, sabar, dan pandai menjaga lisan.
3.Pencegah Dosa Lisan yaitu haji melatih disiplin komunikasi untuk tidak menyakiti sesama jemaah maupun orang lain, yang mana menjaga lisan sangat penting agar ibadah tidak sia-sia.
Islam melarang komunikasi yang mengandung keburukan, Dalam konteks haji, larangan ini makin ditekankan karena Allah melarang rafats, fusuq, dan jidal saat berhaji.
Beberapa bentuk komunikasi yang dilarang antara lain:
1) dusta dan manipulasi informasi.
2) Ghibah dan fitnah.
3) Ucapan kasar, menghina, dan merendahkan.
4) Perdebatan yang menimbulkan permusuhan.
5) Keluhan berlebihan dan kata-kata yang menyakiti hati.
Adapun Komunikasi yang dianjurkan dalam Islam menganjurkan komunikasi yang jujur, lembut, santun, menenangkan, dan bermanfaat. Dalam suasana haji, ucapan seperti ini membantu menjaga ketenangan, persaudaraan, dan kekhusyukan ibadah.
Komunikasi yang dianjurkan meliputi dalam berhaji antara lain:
1) berkata benar dan jujur.
2) mengucapkan kata-kata yang lembut.
3) memberi nasihat dengan hikmah.
4) menyebarkan salam dan kedamaian
5) diam dari hal yang tidak bermanfaat.
Al-Qur’an memberi pedoman jelas dalam ibadah haji: tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam haji. Ini menunjukkan bahwa kemabruran haji sangat berkaitan dengan pengendalian diri, terutama dalam ucapan dan perilaku.
Rasulullah SAW bersabda :“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Hadist dari Abu Huraerah r.a, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Pesan ini menjadi dasar penting dalam adab komunikasi seorang muslim. Dalam riwayat lain, haji mabrur digambarkan sebagai haji yang balasannya surga, dan cirinya tidak disertai maksiat, menjaga lisan, serta memberi makan kepada orang lain. Haji mabrur tidak hanya ditentukan oleh sahnya manasik, tetapi juga oleh kualitas hati, akhlak, dan perilaku selama serta setelah berhaji. Komunikasi yang baik akan mengubah gesekan menjadi harmoni. oleh karena itu sangat perlu mengubah komunikasi yang buruk seperti 1) menyalahkan orang lain saat terjadi kendala, 2) memperbesar masalah kecil antara sesama jamaah, 3) mencela keadaan dan mnegeleh tiada henti.
Sangat dianjurkan untuk membangun komunikasi bahagia yaitu:
1) saling menolong mencari solusi bersama,
2) saling memafkan karena memaklumi kelelahan,
3) saling mendoakan saudara seiman. Fokuslah dalam berhaji untuk mencari solusi dan kebersamaan, bukan pada masalah dan perbedaan. Ini juga merupakan ujian taqwa ketika berhaji.
Bukankah tujuan utama jamaah berhaji adalah untuk memperoleh haji yang mabrur /mabrurah? Tentu tidak mudah untuk mencapainya, namun harus kuat memantapkan hati dengan tulis berhaji karena Allah SWT., wujud kepatuhan tanpa batas manusia kepada Tuhannya, menuntut keikhlasan dan kesabaran tingkat tinggi, serta tawakal. Beberapa hal yang perlu kita ketahui agar mampu mencapai haji yang mabrur/mabrurah, yaitu :
1.Niat ikhlas karena Allah.
2.Menggunakan harta yang halal.
3.Menjalankan manasik sesuai sunnah.
4.Menjauhi rafats, fusuq, dan jidal.
5.Menjaga lisan dari marah, hinaan, dan pertengkaran.
6.Sabar, tawakal, dan banyak berzikir.
7.Memelihara akhlak baik sebelum, saat, dan sesudah haji.
Jamaah haji ditekankan untuk berkata jujur, lemah lembut dan bermanfaat dan diperintahkan menjauhi rafats, fusuq, dan jidal karena hal itu sangat erat kaitannya dengan haji mabrur. Al-Qur’an menegaskan bahwa dalam haji tidak boleh ada rafats, fusuq, dan jidal, sehingga kemabruran haji bukan hanya soal sahnya manasik, tetapi juga bersihnya ucapan, perilaku, dan hati.
Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 197 yang artinya: Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.
Rafast dipahami sebagai ucapan atau perbuatan keji yang menjurus pada syahwat, pornografi, bahkan berhubungan suami istri saat ihram. Fusuq berarti maksiat, mencela, atau melanggar aturan Allah. Jidal adalah berbantah-bantahan, bertengkar, atau berdebat yang memancing emosi dan merusak ketenangan ibadah.
Haji mabrur adalah haji yang dilakukan dengan ikhlas, sesuai tuntunan, dan tidak diikuti maksiat setelahnya. Karena itu, menjauhi rafats (jauhi debat kusir dan pertengkaran), fusuq (jauhi maksiat dan caci maki), dan jidal (jauhi debat kusir dan pertengkaran). Tanda bahwa jamaah mampu mengendalikan diri, menjaga lisan, dan memelihara akhlak selama berhaji. Menjauhi tiga larangan ini membuat jamaah lebih tenang, khusyuk, dan mudah menjaga persaudaraan selama ibadah. Jauhi rafats, fusuq, dan jidal yang dapat mengurangi pahala, merusak suasana ibadah, bahkan dalam kasus rafats dapat merusak haji. Karena itu, haji mabrur sangat berkaitan dengan kemampuan menjaga lisan, emosi, dan kehormatan diri.
Semoga semua jamaah haji memperoleh jahi mabrur/mabrurah dengan berkomunikasi bahagia.
Kesimpulan
Komunikasi yang baik adalah cermin iman, sedangkan komunikasi yang buruk dapat merusak hati, hubungan sosial, dan nilai ibadah. Dalam ibadah haji, menjaga lisan dan akhlak menjadi salah satu jalan penting menuju haji mabrur, yaitu haji yang diterima Allah dan berbuah perubahan menjadi lebih baik. Allah mengingatkan, agar ibadah haji itu dikerjakan dengan penuh takwa kepada Allah dengan mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Dengan begitu akan dapat dicapai kebahagiaan dan keberuntungan yang penuh dengan rida dan rahmat Ilahi.***
Penulis: Ketua Pimpinan Pusat Muslimat Al Washliyah.










LEAVE A REPLY