Home Kabar Daerah Dampingi Masyarakat, Aisyiyah Berhasil Atasi Stunting di Lampung

Dampingi Masyarakat, Aisyiyah Berhasil Atasi Stunting di Lampung

36
0
SHARE
Dampingi Masyarakat, Aisyiyah Berhasil Atasi Stunting di Lampung

LAMPUNG - PJMINews.com— Upaya percepatan penurunan stunting dan pembenahan pola asuh gizi masyarakat membutuhkan penanganan intervensi langsung hingga ke tingkat rumah tangga. Hal ini dibuktikan oleh Majelis Kesehatan (MaKes) PP 'Aisyiyah melalui program pendampingan gizi intensif dan edukasi masyarakat di Pekon Podomoro dan Pekon Blitar Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung. 

Berawal dari kegiatan edukasi gizi pada tahun 2024 di Lampung, Makes 'Aisyiyah mendapati masih maraknya kebiasaan orang tua yang memberikan kental manis sebagai pengganti susu untuk balita. Padahal, tingginya kadar gula pada kental manis dapat menekan nafsu makan anak dan memicu malnutrisi yang berujung pada kondisi wasting hingga stunting. 

"Di awal program pada 2024, banyak orang tua memberikan kental manis karena mengira itu susu. Pada tahun 2026 ini, kami melangkah lebih jauh di Kabupaten Pringsewu dengan melakukan intervensi pendampingan gizi seimbang harian," jelas Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP 'Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes. 

Pola Asuh Mengubah Kebiasaan: Dari Kental Manis ke Makanan Bernutrisi 


Dari hasil penelusuran kader di lapangan, kental manis di wilayah Pekon Podomoro kini tidak lagi dikonsumsi sebagai minuman susu harian anak, melainkan hanya dioleskan sebagai topping makanan seperti roti tawar. Anggota Komisi IV DPRD Lampung, Irsyad Fathoni, SH, serta kader lapangan meyakini tantangan utama gizi anak di daerah tersebut bertumpu pada pola asuh dan kebiasaan harian.

"Sebagian besar kasus balita stunting yang kami temui bukan semata-mata karena ketidakmampuan ekonomi, melainkan karena salah pola asuh. Karena orang tua sibuk bekerja, anak sering dibiarkan makan sekepengennya atau diberi jajanan manis dan penyedap rasa agar tidak rewel. Namun lewat pendekatan dan edukasi kader, persepsi dan kebiasaan itu mulai berubah," ujar Irsyad.

Chairunnisa menambahkan, para ibu penerima manfaat kini telah sadar dan beralih menggunakan susu pertumbuhan bubuk yang sesuai dengan usia balita. "Ibu-ibu sudah paham bahwa kental manis itu bukan susu pertumbuhan. Mereka kini memberikan susu yang tepat serta makanan bernutrisi untuk tumbuh kembang anak," tegasnya.

Sentuhan Kreatif Kader: Dorong Kemandirian Ibu dalam Mengolah Menu

Kader Majelis Kesehatan 'Aisyiyah di Pekon Podomoro, Ibu Erni, menceritakan bagaimana pendampingan door-to-door dilakukan secara telaten. Setiap hari, para ibu memasak menu bergizi seimbang seperti protein, karbohidrat, serat, dan buah dari bahan mentah yang disuplai, lalu melaporkan foto sajian dan aktivitas makan anak kepada kader.

"Dulu kalau cuma telur saja, langsung kami pertegas: 'Kok cuma telur saja, sayurnya mana?' Lama-kelamaan menunya bertambah dan ibu-ibu jadi makin kreatif. Kacang hijau dibuat puding, daging ayam dibikin nugget, dan jagung diolah jadi perkedel dengan bentuk menarik agar anak lahap makan," tutur Erni.

Kader juga mengajarkan trik pengasuhan agar anak tidak jajan sembarangan sebelum waktu makan tiba, sehingga nafsu makan anak tetap terjaga. Keberhasilan ini bahkan menarik minat warga di luar peserta pendampingan yang melihat unggahan foto menu makanan sehat di status media sosial para kader. Melalui kelas balita di Posyandu, kader 'Aisyiyah merangkul warga lain untuk belajar bareng menyusun menu bergizi seimbang.

Capaian Tumbuh Kembang dan Replikasi Anggaran 2027

Hasil evaluasi antropometri pada pekan ke-10 dari 12 pekan pendampingan menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif. Dimana di daerah (pekon) Blitar Rejo, sebanyak 19 balita (95%) mengalami kenaikan berat badan dan seluruhnya bertambah tinggi badan.

Sedang kan di Pekon Podomoro, sebanyak 9 balita (60%) mengalami kenaikan berat badan dan 90% diantaranya bertambah tinggi badan. Menanggapi ditemukannya data sekitar 1.200 balita stunting di Kabupaten Pringsewu, DPRD Lampung bersama Dinas Kesehatan Lampung berkomitmen melakukan politik anggaran pada APBD 2027 untuk mereplikasi model pendampingan 'Aisyiyah.

"Metode pendampingan berbasis komunitas seperti yang dilakukan 'Aisyiyah ini sangat efektif karena mereka memiliki basis massa hingga ke tingkat RT/RW. Kami di DPRD akan mengawal alokasi anggaran 2027 agar model kolaborasi ini dapat diperluas demi mewujudkan Pringsewu bebas stunting," pungkas Irsyad Fathoni. - (rd/pp)